Rabu, 11 Juli 2012

KALISKA -Anjing Betina Pemburu-


Hujan turun sebagai kuas-kuas langit yang menggores kulit bumi
begitu banyak warna
begitu banyak pilihan eksistensi
dan kelam adalah wadah
dimana estetika menjadi absurd lalu pudar berkeping luruh
aku tidak ingin bangun hanya untuk melihatmu pergi






     KALISKA, seperti namanya, yang dalam bahasa Miwok  berarti anjing (betina) pemburu, begitu pula ia. bagaimana tidak, begitu lepas senja turun dan malam-malam terdahulu yang telah habis digadainya, tak akan mampu menjaminnya  bahwa esok akan masih tetap ada hari-hari yang bisa dijalani dengan utuh dan pemburuannya itu akan tetap mendapat wadah dimana waktu adalah esistensi estetika tak terbatas seakan mewujud tangan Tuhan yang menghangatkan hidupnya, menyambung nyawanya.

Kaliska  nama yang indah bukan?  tapi aku tidak akan membahas soal nama lebih dalam. Kaliska itu,  seperti sebuah  kotak hitam Amygdala  yang jauh tersimpan di Medial Temporal Lobes.  bahkan jauh dari itu, selalu mengingatkanku pada sebuah kisah yang  -entah itu memang benar terjadi, atau... entahlah, tapi itu seperti nyata- telah terjadi. aku tak tahu pasti  hingga petang ini, bersama gerimis nama itu terus menggenangi surya,  menyingsing jingga membaur kisah. dan setiap gerimis tiba -atau hujan- akan terasa begitu perih di dada.

aku tidak tahu mengapa akhir-akhir ini sering hujan, atau sekedar gerimis. padahal masih jatuh di bulan Mei.entahlah, anomali cuaca membuat semuanya jadi kacau tak karuan. begitu juga hatiku, ada chaos  yang bergejolak di sini. perasaan tak menentu. entah apa aku juga tak tahu, aku hanya ingin menikmati gerimis yang turun mengalir syahdu di balik jendela. indah benar di luar sana. sejuk dan menentramkan. aku mengintip sesekali dalam keterbatasan. di luar sedang berkabut ternyata. dan kabut itu telah sampai di jendela sebagai butir-butir air yang mengembun. jendela buram. tanpa sadar jemariku mengarah kesana, menggoreskan sebuah nama: KALISKA.

     ''kau yang datang menjemput mimpi. kau kah yang menakluk malam?''

     ''hati ini telah sepenuhnya kau genggam, dan aku adalah manusia yang payah''


     Air jatuh di pipi dan itu bukan gerimis. sebongkah cahaya mulai  berputar-putar di ujung mata. ada mual yang begitu sangat berujung di tenggorokan, lantas tertelan ke perut mengaduk-aduk isi dada dan kembali termuntah sebagai bentuk kebebasan dari pengap yang sejak tadi tertahan. seluruh ruangan seakan berputar. makin kencang putaran itu, lalu fokus di satu titik. diam.

waktu.. 
sebuah titik..
putaran-putaran... 
redup-remang...  HILANG                                         

    Aku melihat diriku sebagai orang lain dalam satu waktu yang bersamaan, namun dalam dimensi  ruang yang berbeda. Gerimis ini. situasi ini, tempat ini, dan wanita itu... bayangan-bayangan... Waktu yang terulang.. Masa lalu... samar-samar mewujud bentuk, waktu.. menjadi nyata.. semakin nyata.. dia, dirikukah? aku melihat diriku sendiri. disana berdiri di pinggir halte itu. dia, diriku,  masa lalu...
Hujan tiba-tiba turun. deras. menguap pada tumpahan pertama di aspal  yang siang tadi penuh dibanjiri sinar terik matahari. aku lari tergesa-gesa ke satu halte yang tak berjarak jauh dari tempatku berdiri. berteduh dan segera membereskan barang-barangku yang basah terkena hujan.

"untung tidak basah semuanya, masih bisa dikeringkan, syukurlah"  

aku bergumam sendiri. lalu kembali pada kesibukan awalku, mengurusi barang-barang tanpa menghiraukan situasi sekitar, termasuk yang berada tepat di depanku.  seorang gadis,  ya seorang gadis yang sedari tadi berdiri di depanku tanpa kusadari keberadaannya. melemparkan satu senyuman. indah. begitu indah. keindahan itu terpancar dari rona wajahnya yang bersinar terang dibilas silau tempias rinai yang terbawa angin. Bidadarikah? apakah ini mimpi? aku melongo. belum pernah kumelihat keindahan yang maha sangat seperti yang tersirat di mataku kini. aku benar-benar hanyut terbawa suasana sampai suara-suara itu terus mendarat lembut bertubi-tubi di telinga  dan segera mengembalikan kesadaranku. suara bidadari itu. Indah.

'' kamu basah, hujan itu telah membuatmu basah"

aku hanya terdiam, takjub menikmati keindahan suaranya. gila, suara itu benar-benar lembut. aku dalam kondisi alpa hingga beberapa detik setelah kembali tersadar oleh rintik hujan yang tempias jatuh mengenai dahiku.

"eih, iya, hujan" jawabku gugup.

hanya sepatah kata dan aku kembali terdiam. sorot mata itu. putih seperti salju. dengan core  hitam di tengahnya, memancarkan sinar keperakan seperti Nero Cameo Silver Filigrane of Bottega Venete Ring.

"hujan itu indah. aku suka hujan. di sana aja kesejukan yang menenangkan. coba kau dengar tiap rerintik yang jatuh, ia seperti bersenandung. resapi dan nikmatilah iramanya. indah".
gadis itu menengadahkan kepalanya sembari memejamkan mata. merentangkan kedua tangan di masing-masing sisi tubuhnya lalu melambai berputar.

" aku juga. aku menyukai hujan, juga".    jawabku singkat.

"benarkah? lantas mengapa  berteduh?"   ia memalingkan wajah kearahku. senyumnya itu -entah menyimbolkan apa- seperti mengejek!

"hmm.. eee.. bukan begitu. cuma saja..."   belum sempat kutuntaskan ucapku tangannya telah sampai duluan menggapaiku, menyilangnya di antara sela-sela jariku, menggenggam erat. dingin, seperti salju. seperti mata itu juga. tak banyak yang bisa kulakukan  selain mengikuti alurnya. menarik nafas panjang guna menawar degub jantung yang makin melaju kencang dan kian kencang, lalu diam. hei, jangan berhenti dulu, wahai degub jantung! aku belum ingin melewati momen indah ini. setidaknya untuk saat ini. jangan sekarang!

"ayo ikut denganku. kita nikmati sang hujan bersama"

ia menarik tanganku menuju hujan. aku terlalu lemah melawan hasrat. tangan salju itu membuatku tak berdaya. diantara ribuan titik air dan deru hujan, kami mulai menari. menari dan terus berputar. tangannya terggenggam erat. keduanya. kutarik perlahan dan mendekat. wajahku-wajahnya jatuh pada jarak ideal, hanya menyisakan jarak selebar dua jari. dan bibir merah itu, pucat, namun tetap saja indah. kami hanya bertukar pandang dan kembali menari. sesekali kami berlari, menangkap satu persatu butiran air yang jatuh dari langit. terus berlari dan saling berkejaran seperti dalam adegan romantik  film India. lalu menghentakkan kaki-kaki kami di genangan air yang terperangkap lubang, gemercik air dan makin gaduh disusul teriakan gembira. kami tertawa dan terus berlari di bawah payung hujan.  kutarik kedua tangannya dan kugenggam kembali. lalu kuputar tubuhku dan tubuhnya hingga melayang-layang di udara. lalu kuakhiri dengan pelukan. di sini romansa khayali makin kental. aku menangkap rona bahagia. di wajah itu, tergambar sebuah raut kebebasan atas perlawanan dari pengekangan batin yang -aku tak tahu pasti, mungkin- telah terkekang lama dan menumpuki sesak di labirin hatinya yang terdalam, dan kini terlihat  meluap keluar menjadi kebebasan yang utuh. inilah hidup. dan aku belum pernah merasa sehidup ini. aku terlalu hanyut dalam rutinitas dan tenggelam dalam suatu keterikatan wajib yang mesti dijalani. itu dan itu lagi. seperti laso yang sudah tersimpul rapi dan segera dilingkarkan di ruas leherku. aku jenuh dengan segala hal  yang  monoton dalam hidupku. aku ingin hidup dan bebas! seperti sekarang. menari dan menari diantara rinai dan basah. dalam kesejukan teduh aku luruh.

"kamu bahagia?''  bisiknya halus di telinga. suara itu, mengakhiri gerakku, juga hujan. aku mengangguk.

   Hujan telah reda dan segalanya menjadi hening. aku masih menikmati momen ini. masih terhanyut. begitu juga dia. kami terdiam beberapa detik. tak ada gerak tak ada suara. hanya peraduan mata yang saling menusuk satu sama lain. dalam satu garis, lurus.

"kamu bahagia"  ia mengulang ucapnya. aku membalas dengan anggukan lagi.

"kamu bahagia dan basah sekarang. singgahlah ke rumahku,  di balik simpang itu, tak jauh.  kamu bisa mengeringkan pakaianmu juga barang-barang bawaanmu di sana"  ucapnya sembari melayangkan telunjuknya menunjuk kearah yang dimaksud. aku tak membalas.

"diam berarti setuju, ayo ikutlah"   ia menarik tanganku dan sekali lagi aku hanya mampu mengikuti alurnya.

    Rumah gadis itu memang tak jauh dari halte. hanya memakan waktu 5 menit berjalan kaki. setelah melewati tikungan pertama persimpangan, tampak sebuah rumah mungil dengan cat berwarna krim dikelilingi pagar rendah. halaman dan  beranda  rumahya  dihiasi  oleh beberapa varietes anggrek dan mawar.

"kamu suka bunga?"

"ya, begitulah. aku suka keindahannya, seperti juga keindahan gerimis"

"silakan masukl"  gadis itu membuka pintu rumahnya.


    Rumah ini mungil dan bersih terawat. aku mengamati tiap sudut ruangan. semua tersusun rapi. penempatan perabot pas pada tempatnya. proporsional. lantainya pun bersih beralaskan batu granit. di sudut ruangan terletak sebuah piano tua. papan tuts-nya ditutupi selembar kain putih. pasti piano ini jarang atau mungkin tidak pernah lagi dimainkan, pikirku.

"Silakan duduk. anggap saja rumah sendiri. kuambilkan minum sebentar. brandy? atau mungkin bir?"

"oh terima kasih, mungkin yang lebih ringan lebih bagus''

"teh?''

"tidak. mungkin kopi. ya kopi pahit, kalau tidak keberatan"

"kopi pahit?'   gadis itu tersenyum. "baiklah, sebentar saya buatkan"

    Tak lama gadis itu datang. ia telah menganti pakaiannya, mengenakan daster terusan yang sedikit transparan. membawakan secangkir kopi dan handuk juga satu stel  pakaian.

 "pakailah, bajumu basah dan harus segera mengantinya"
 "gunakan kamarku jika kamu malu mengenakannya di sini"  telunjuknya mengarah ke kamarnya. tanpa pikir aku segera menuju ke arah kamarnya dan segera mengganti pakain.


"baju itu ternyata muat untukmu. tepat, posturmu tak jauh beda dengan adikku"

"adikmu?"

"ya, adikku. yang setahun lalu menghilang dan hingga kini aku tak tahu tentang keberadaannya. hingga kini,  ya, hingga kini aku tak tahu kabarnya entah bagaimana."
"padahal hanya dia satu-satunya saudara yang aku miliki semenjak meninggalnya papa dan mamaku"

"aku turut prihatin"" jadi kamu hanya tinggal sendiri di rumah ini?''

"ya, begitulah"  gadis itu tersenyum.

"hei, omong-omong aku belum tahu namamu"


"oh ya, Zein. Lazuardi Zein" sembari mengulurkan tanganku untuk bersalaman.


"aku Kaliska" jawab gadis itu

"aduh, aku hampir lupa" 
aku segera meraih tas-ku dan mengeluarkan setumpuk bundelan kertas yang ada di dalamnya. bundelan kertas berisi naskah novel dan beberapa antologi puisi yang mestinya kukirim ke penerbit sore ini. hampir basah semuanya, tetapi tidak keseluruhannya. untunglah.

"apa itu?" Kaliska meraih satu bundelan kertas.
"kamu penulis? juga penyair?"  ia menganbil bundelan yang berisi puisi. sepertinya ia lebih tertarik pada bundelan yang berisikan puisi ketimbang bundelan yang berisi naskah novel. ia suka puisi.

"tidak juga. itu hanya sambilan. sebenyarnya aku hanya karyawan BUMN biasa. cuma saja aku memang  suka menulis"

"wow ini indah, dari judulnya saja aku suka: MEMBACA GERIMIS"
"maukah kamu membacakannya untukku?"

 "hmm, tapi hanya satu ini saja ya?"

"ya, aku akan memainkan piano  sebagai instrumen pengiringnya. lagu apa ya kira-kira yang cocok?"

"mungkin A Time for Us, Andy Williams"

"aku coba"

dan denting piano mulai mengiringi kegilaan dua anak manusia yang sedang terhanyut di suasana rasa yang terdalam,  mendekati keadaan spiritual kenosis. menjadikannya semakin bersambut. melambai dan larut.

 MEMBACA GERIMIS
Ai, kutemukan lagi matamu masih menyorot cemburu
padahal jengah 'tlah berlabuh bermuara entah
ranjang basah selepas terjaga
sepetak rasa kubingkai rapi  menjadi mimpi
lantas mengapa tersisa hangat tubuh yang mestinya terbagi dini tadi?

lihat, langit sedang bersenandung
biru pada retakan jingga
liurnya muntah hingga ke beranda
di pucuk-pucuk randu
dan mahija yang menengadah ke atas
membaca makna dalam ketidakberaturan
melodi teralun tik di tik
menjadi titik cikal awal ke akhir
lalu melebur di segumpal harmoni,
pecah
diam dipekakan tafsir.

    Aku menyudahi orasi. begitu juga Kaliska, yang segera disusul dengan menutup tuts piano menggunakan selembar kain putih seperti sedia kala. setelah dipikirnya telah rapi  ia menyudahinya dan datang menghampiriku. lalu suasana menjadi hening. semakin hening. ada semacam luka dalam yang terbakar menjadi bara. luka itu, sepertinya telah tertanam lama dan dalam, tidak perih namun bergelora, membara. tentang gejolak jiwa yang berkecamuk lama, ada yang terlupa..

 "kamu bisa menjadi penyair hebat, Zein"   bisik Kaliska
"sajakmu begitu indah meraung di hati terdalamku"

''Tidak, aku bahkan belum pantas disebut penyair. tapi kamu, hebat. nyawanya ada di kamu. kamu yang mengiringi musik hingga begitu hidup aku berorasi. aku terhanyut dalam liuk irama pianomu yang seksi itu. aku hayut..."

"begitu juga aku Zein, aku juga hanyut di pandangan matamu itu"
Kaliska merapatkan wajahnya ke wajahku. semakin dekat.. semakin dekat hingga tak ada lagi sekat yang menghalangi jarak diantara kami. aku merasa sesuatu yang hangat jatuh di bibirku. aku diam untuk beberapa detik. aku tak tahu  isyarat apa ini. dan aku tidak jauh memikirkannya. aku terlalu sibuk menetralkan degub jantung yang semakin kencang dan sensasinya menjadi dingin. aku terhentak.

"maaf, aku harus segera pergi Kaliska"
"sore ini aku harus ke penerbit" elakku sambil menjaga jarak pada kondisi yang tak tersekat tadi dengan segera membereskan barang-barangku. satu persatu.''

''tinggallah disini. setidaknya sampai nanti malam atau besok"

Kaliska kembali menggapainya. ekor mata itu tajam. aku tak kuasa melawannya. sekali lagi aku terbawa alurnya. kali ini insting yang berbicara. tak ada kata-kata lagi yang mesti termuntah keluar. kaliska menarikku ke suatu ruangan. dan semuanya berjalan pada romantika alamiah, yang berpegang pada insting dasar bawaan manusia. semua makin bergemuruh. laju nafas dan waktu, kian berlomba. aku menikmati setiap laju aliran darah dan adrenalin yang seakan pasrah di banjiri literan sel-sel darah yang terpompa keluar oleh jantung, berulang dan berulang. lalu ketika literan sel-sel darah itu telah menumpuk padat di urat leher, semuanya menjadi sesak dan pecah menjadi sebuah teriakan; adalah puncak dari segalanya. aku telah menjadi pria seutuhnya!
Dan semuanya telah berakhir. perburuan itu, dari hasrat yang telah meledak-ledak, kembali lagi ke titik nol, ke awal; kosong. aku menarik bedcover  di bawah kakiku. kututupi tubuhku dan tubuh Kaliska yang sama polosnya. tubuh kaliska meringkuk di bahu kiriku. tangan kirinya menyilang di dadaku. ada kehangatan yang menentramkan dadaku, mungkin tepatnya di hati. aku memalingkan wajah dan mencium lembut dahinya. kaliska menengadah dan tersenyum.

"kamu percaya pada cinta pandangan pertama, Zein?''

kaliska mendekapkan telapak tangan kanannya ke pipiku. aku hanya diam. membalasnya dengan dengusan napas. entahlah. aku tak tahu pasti. tentang yang terjadi barusan tadi, apakah itu benar cinta murni atau sekedar naluri alamiah belaka. yang bisa kurasa hanyalah  sensasi yang begitu hebat bergejolak di dalam dadaku. apakah itu cinta?

"Zein..."
" tahukah kau sesunggunya siapa aku ini?''
"aku adalah wanita yang selalu memburu cinta, lalu menjualnya. aku tak tahu apakah aku memang menjual cinta atau sekedar raga"

"jadi, maksudmu, kau adalah seorang....."
"ya, pelacur. mengapa kau terlihat sedikit gagu mengucapnya Zein. tak apa. aku tak akan tersinggung"
"kau takut kukenakan tarif. tenanglah, aku tak akan memungut bayaran untuk semua ini. aku melakukannya dengan sadar. sejak pertemuan kita tadi di halte, ada perasaan yang mendalam di hatiku. aku tak tahu apakah itu cinta"

Cinta? gila! secepat inikah cinta tumbuh. benarlah, wajar jika ia punya pemikiran demikian, dia kan seorang pelacur?!

"kenapa kau memilih menjadi pelacur?''

"entahlah Zein. tapi aku tak mau menjadikannya sebagai alasan ekonomi seperti kebanyakan wanita lain yang sama sepertiku. aku mampu secara finansial. aku juga karyawan di salah satu perusahaan swasta"

"lantas?"

"pencarian Zein, pencarian hidup"
"aku menemukan kebebasan disini, aku juga bisa berbagii"

"berbagi?"
"berbagi tubuh maksudmu?"
"lantas sudah berapa lelaki yang telah kau ajak tidur?"

"entahlah. aku tak tahu pasti. begitu banyak. tapi aku memilah-milah. tidak sembarang pria bisa tidur denganku. hanya dari kalangan pengusaha, pejabat dan konglomerat. sebab aku mematok tarif relatif tingi"

"dan kau mematokan tarif untuk itu?"

"Upah yang kuterima hanyalah syarat, intinya adalah pencarian kebebasan itu"
"sebagian hasilnya kusisihkan untuk membeli buku-buku,  mendirikan  sekolah dan  taman baca untuk anak-anak putus sekolah dan yang tak mampu di sebrang pinggiran sana"

"tapi tetap saja agama melarang itu"

"agama juga melarang tentang perbuatan yang barusan kita lakukan. tapi mengapa kau melakukannya juga?''
aku terdiam. sial pancingannya kena di diriku. aku mati kaku!

" agama bisa berbuat  apa selain menghardik, mencela dan mengutuk saja. ketika permasalahan sosial telah muncul di permukaan, semuanya seperti menutup mata."
"perut-perut mereka tak akan kenyang hanya diisi ceramah belaka"
"lagian agama yang sekarang lebih didominasi oleh ciptaan manusia itu sendiri. tidak murni turun dari sang pencipta. aku percaya Tuhan cukup paham tentang hal ini. bukankah ia maha pengasih lagi maha mengetahui?''

"kau tahu Zein, di luar sana banyak yang sepertiku, tapi bedanya mereka melakukan itu kerna tuntutan finansial. kebutuhan yang selalu tak terpenuhi. hal yang mendasar. aku prihatin. mereka adalah korban-korban kekejaman zaman dan pola tingkah manusia itu sendiri"

aku terdiam lagi. dadaku sesak. gila. tadi, pada awalnya aku sempat berpikiran dan memvonis bahwa wanita ini memang kurang ajar dan tidak meiliki adab. tetapi aku menyadari. ini adalah hidup. dan dalam pencarian hidup penuh getir dengan lika-liku warna yang menghiasinya. Hitam dan putih absolut, dan abu-abu bukan pilihan. seandainya 5 tahun lebih cepat aku mengenal diriya, sudah pasti kujadikan ia pendamping hidupku. mungkin juga ia tidak akan seperti ini. mungkin ia akan tetap menjadi sosok yang polos. apa adanya. tanpa topeng, tanpa apa-apa yang menjadikannya semakin hitam dan ternoda. dan dia tak akan menderita seperti ini!
Waktu terus berjalan. sudah hampir malam, aku mengurungkan niat untuk  pergi ke penerbit. kupikir tak akan jadi masalah jika besok saja kuantarkan naskah novel dan antologi puisiku ini. malam ini aku hanya ingin rebah di sampingnya. bersama bidadari ini, wanita berhati salju dan dingin. aku menatap wajahnya yang polos. wajah yang telah lelap sejak aku memeluknya hangat. wajah itu, menahan kepenatan sebagai bayaran dari kebebasan yang paling hakiki. wajah itu, merdeka. bidadari berhati salju. kupejamkan mata dalam pelukan. lelap.


"Zein..."
"Zein..."
"Zein..."

aku mendengar suara. terasa begitu jauh dan terngiang. entah dari mana, rasanya memang begitu jauh.pandanganku hanya putih. seperti kabut yang menyelimuti. ada titik cahaya. di sana. aku beranjak dan menggapainya. semakin dekat, semakin dekat. cahaya itu semakin fokus dan kini mewujud menjadi benda-benda.  aku mengedipkan mata berkali-kali. mencoba memulihkan memori. ruang ini, di mana? aku tidak mengenalinya!

"dok... pasien telah sadar!' teriak perawat
Dokter datang lalu memeriksa.

"Zein, syukurlah kau telah sadar"
suara itu. aku sepertinya mengenalinya. begitu familiar dan lembut. kuperkuat memori  dan ternyata aku kenal. mama!

"bagaimana keadaan dok? tanya mama

"tidak apa-apa bu, keadaan pasien sudah membaik. dia hanya perlu banyak istirahat"
"besok akan saya cek lagi perkembangannya. sekarang istirahatlah Zein. saya tinggal dulu bu. permisi"

''baik dok, terima kasih banyak" jawab mama

"Ma, di mana ini"?
"ada apa denganku?"
"mana Kaliska?"

"kamu di ICU. sudah 2 minggu lebih kamu koma Zein"
"sejak peristiwa kecelakaan itu, di halte!"

"kecelakaan apa? aku tidak ingat"   aku mencoba bangkit dan, lalu merasakan sensasi sakit yang teramat sangat di kepalaku. kutahan dengan tangan kiriku. namun tetap saja denyut yang terasa.

"sudahlah Zein, jangan paksakan dirimu. yang penting kamu selamat. sebaiknya kamu istirahat dulu."
mama menarik kembali selimut dan merebahkan tubuhku lagi di tempat tidur.

"Istirahatlah dulu Zein. mama akan keluar sebentar cari makanan. kamu jangan lasak ya"
mama mencium dahiku lalu meninggalkanku sendiri di ruang ICU.


dan keadaan mendadak jadi senyap. kurasa aku bisa fokus membuka memoriku dan mencoba-coba mengingat apa yang telah terjadi. tapi berkali kucoba tetap saja gagal. semakin  keras berusaha semakin sakit terasa. ah, sial, aku bosan! kupaksakan tuk duduk, namun sulit. sakit di kepala dan di sebagian tulang rusuk kiriku sangat menggangu. aku coba paksakan lagi. meski terbatah akhirnya  bisa juga.
tanpa sengaja perhatianku teralih ke sebuah judul berita surat kabar yang ada di atas meja sebelah kanan ranjangku.
'KECELAKAAN MINI BUS MAUT, MENEWASKAN 1 ORANG 3 LUKA-LUKA'. kubaca dengan seksama.  betapa tercengangnya aku, namaku ada di antara nama-nama korban itu dan satu orang korban tewas itu adalah Kaliska. Tidak mungkin!
bukankah tadi malam aku tengah menghabiskan waktu bersamanya. Tidak mungkin! berita ini pasti keliru.

Suara gelegar guntur menandakan awal turun gerimis. bersaman itupula setetes air yang jatuh mengalir di pipi -dan itu bukan gerimis- lalu menjadikannya suasana semakin perih. kupalingkan wajah ke jendela. di luar sedang hujan dan hujan itu mewakili isi hatiku. tentang kepedihan. tentang rasa kehilangan. begitu dalam hingga butir-butir kepedihan itu berubah menjadi kabut dan mewujud menjadi butir-butir air yang mengembunl di jendela. tanpa sadar jemariku mengarah ke sana, menggoreskan sebuah nama: KALISKA.


-The End-

Tidak ada komentar:

Posting Komentar